Menyambut
May Day (Hari Buruh Seluruh Dunia) kaum buruh seluruh dunia turun ke jalan,
bergandengan satu sama lain. Tak terkecuali di Indonesia, sejak 1920 di masa
penjajahan Belanda, buruh-buruh di Indonesia sudah memperingati hari buruh
dengan melakukan aksi massa menuntut hak-hak mereka yang direbut para penjajah.
Di masa kepemimpinan Soekarno, May Day dijadikan hari libur nasional, sebuah
penghargaan yang diberikan oleh Soekarno untuk buruh-buruh Indonesia yang
terlibat penuh merebut kemerdekaan dengan pertumpahan darah.! Pasca pembataian
massal yang dilakukan rezim Soeharto (Malapetaka 30 September 1965) buruh-buruh
di Indonesia dilarang keras memperingati May Day. Hari buruh Internasional
dianggap Orde Baru sebuah peringatan yang identik dengan kaum komunis di dunia,
dengan alasan keamanan dan stabilitas politik, Soeharto melarang keras bagi
siapapun yang memperingati May Day.
Reformasi
bergulir, kebebasan bicara dan aksi massa adalah anugerah yang direbut rakyat
Indonesia, setelah berhasil menggulingkan kediktatoran Soeharto. Aksi-aksi
buruh memperingati May Day kembali mendapatkan semaraknya, ribuan bahkan sampai
jutaan buruh di Indonesia memperingati May Day dengan turun ke jalan menuntut hak-haknya
menuju Istana Negara dan menjalankan rapat akbar di Gelora Bung Karno. Tak ada
satupun tuduhan Soeharto yang terbukti.! Rezim Soeharto mengatakan
peringatan May Day akan mengganggu keamanan, dan stabilitas politik.!
Buruh-buruh di Indonesia tetap menghargai para pengguna jalan jika melakukan
aksi massa, tanpa mengganggu keamanan publik seperti yang dituduhkan Soerhato.
Penjajahan
dengan senjata yang dilakukan Belanda dan Jepang, sudah hilang di Bumi
Nusantara, rezim otoriter Soeharto digulingkan dengan persatuan rakyat
Indonesia. Apakah masalah kemiskinan yang mengakar di Indonesia sudah selesai?
Mari kita jawab dengan serentak mengatakan “tidak.” Kemiskinan, kelaparan, anak
kurus tak sekolah, para petani mengangkat parang mempertahankan tanahnya,
adalah peristiwa yang masih kerap terjadi! Walaupun sebagian setan sudah
meninggalkan Bumi Nusantara.
Saat
ini para setan Orde Baru masih melekat di setiap bendera yang terlibat
dalam pemilu elit 2014, memaksa rakyat dan buruh untuk memilih mereka yang tak
pernah peduli terhadap rakyat. Apakah kita harus memilih para setan yang
terpampang di kertas suara, atau melawan pemilu elit 2014, tempat para tikus
berdasi berebut kekuasaan? Akan dijawab di paragaf selanjutnya. Selamat
membaca!
Sepenggal Sejarah May Day.
Peringatan
May Day tidak terlepas dari sejarah perjuangan kelas buruh yang menuntut 8 jam
kerja. Setelah abad 18, fase di mana kaum buruh menyadari, kenyataan 12 jam
kerja sehari sebagai bentuk penindasan yang diciptakan kapitalis untuk
mengkerangkeng kaum buruh. Tuntutan yang diajukan kaum buruh memperpendek jam
kerja. Perjuangan yang menuntut 8 jam kerja diawali oleh kaum buruh di Amerika
Serikat pada tahun 1 Mei 1886, berakhir dengan penyerangan yang dilakukan
Amerika serikat dengan menggunakan alat pembantai massalnya (Militer dan
Polisi) untuk menghadang setiap gerakan perlawanan dari kaum buruh. Setelah
penyerangan itu terjadi, dalam waktu dekat aksi demontrasi kaum buruh disambut
dengan pemogokan umum yang memaksa 70.000 pabrik tutup di Amerika Serikat.
Pemogokan
buruh berlanjut di hari-hari berikutnya, namun pemerintahan Amerika Serikat
gelisah terhadap gerakan buruh yang menghambat berjalannya modal, dengan
kekuasannya terhadap alat kekerasan Negara (Militer, polisi), pemerintah
Amerika Serikat memberangus perlawanan kaum buruh, sampai bercucurnya darah dan
keringat dari kelas pekerja.!
Peristiwa ini banyak membawa dampak yang dalam bagi kelas pekerja di seluruh dunia. Pada saat ulang tahun kejatuhan Bastille 5 juli 1889 (ulang tahun ke 100 Prancis) seluruh kaum buruh berbagai negeri membuat rapat akbar di Perancis yang menghasilkan resolusi. Berikut resolusinya dari rapat akbar kaum buruh di Perancis:
“Kongres memutuskan untuk mengorganisir sebuah demonstrasi internasional yang besar, sehingga di semua negara dan di semua kota pada satu hari yang telah ditentukan itu rakyat pekerja akan menuntut pihak berwenang negara hukum pengurangan hari kerja menjadi delapan jam, serta melakukan keputusan-keputusan yang lain dari Kongres Paris. Sejak demonstrasi serupa telah diputuskan untuk 1 Mei 1890 oleh Federasi Tenaga Kerja Amerika di konvensi di St Louis, Desember, 1888, hari ini diterima untuk demonstrasi Internasional. Para pekerja dari berbagai negara harus mengorganisir demonstrasi ini sesuai dengan kondisi yang berlaku di setiap negara.”
1
Mei selanjutnya menjadi catatan dalam benak kaum buruh bahwa mereka tidak
sendiri. Ribuan sampai jutaan kaum buruh dari seluruh Bumi Manusia telah
tersatukan menjadi sebuah kelas, yang menghancurkan prasangka suku, rasa,
etnis, agama, kebangsaan, warna kulit, dan kasta.
Terpusatnya kekuasaan dalam kepemilikan pribadi, menjadi salah satu penyebab kaum buruh harus menentang kekuasaan pengusaha yang menerapkan sistem kapitalisme. Sistem yang dirancang menaruh jutaan kepala rakyat pekerja bergantungan di tiang gantung pasar dunia. Krisis lingkungan yang terjadi di belahan dunia, disebabkan oleh sistem kapitalisme. Demi menjaga berjalannya arus modal, dunia ketiga menjadi sasaran ekspolitasi SDA demi komoditi yang diperjual belikan, di depan kita yang merintih lapar!
Kaum Pekerja Masih Hidup
Sesak Di Dalam Kamar Kontrakan.
Sejarah
perjuangan kaum buruh yang panjang menyisakan berbagai keindahan dan duka,
keberhasilan menuntut 8 jam kerja, dan kehilangan kawan juang yang ditumpas
para alat kekerasan Negara. Ternyata keberhasilan kaum buruh seluruh dunia tak
berdampak kepada salah satu pabrik kuali di Tangerang, saat ini masih
memperbudak para pekerja tanpa dibayar jerih payahnya. Walaupun pengusaha dari
pabrik tersebut sudah dijebloskan ke dalam penjara, namun kejadian perbudakan
di era seperti ini, tentu menjadi hal yang biasa di mata para elit yang
berkuasa. Sehingga sistem perbudakan dengan memaksa pekerja untuk bekerja di
atas 8 jam kerja dipoles dengan slogan “lembur” menghasilkan recehan dari
pengusaha. Menjadi wajar jika kaum buruh mengambil lembur, dan harus menguras
tenaga, demi tambahan gaji untuk kehidupan yang sederhana. Sebab gaji pokok
kaum buruh jauh di bawah hidup layak. Hari ini di berbagai daerah tidak ada UMK
(upah minimum kota) atau UMP (Upah Minimum Provinsi) yang mampu memenuhi
kebutuhan hidup pekerja! Mengambil lembur menjadi satu-satunya pilihan yang
harus diambil kaum buruh demi kebutuhan hidupnya.
Tidak
hanya sistem perbudakan yang kolot diterapkan di Indonesia, saat ini selain
slogan lembur yang diajukan perusahaan, ada lagi sebuah sistem yang memaksa
kelas pekerja menjadi budak di dalam negeri sendiri. Sistem outsourcing yang
menghantui kelas pekerja di Indoensia, membuat para pekerja hanya bekerja dalam
waktu yang ditentukan, dan jika perusahaan tidak menginginkan lagi untuk
menambah kontrak para pekerjanya, maka dengan mudah para pekerja dipecat dari
sebuah perusahaan. Sebab para elit yang berkuasa mendukung keinginan kapitalis
dengan menciptakan regulasi anti buruh (UU No 13 Tahun 2013 Pasal 64-66)
sebagai legalitas para pengusaha menjalankan sistem yang tidak manusiawi
tersebut. Kebijakan outsourcing menguntungkan bagi perusahaan, di dalam sistem
outsourcing perusahan tidak diwajibkan menjamin kesehatan para pekerjanya, dan
tentunya tidak akan membayar uang pensiun para pekerja yang masuk dalam sistem
outsourcing, dan keutungan lainnya: Perusahaan tidak perlu menaikan gaji
pekerja, karena dapat mengundang para pekerja baru dengan gaji rendah untuk
menjadi budak di dalam perusahaan.
Kaum
pekerja perempuan yang berada di dalam pabrik mendapatkan dua kali lipat
penindasan dari pengusaha dan para birokrat. Marak terjadinya pelecehan seksual
di dalam pabrik terhadap para pekerja perempuan, selain itu, di dalam sistem
pengupahan masih menerapkan budaya patriarki, terlihat dengan adanya perbedaan
gaji yang didapat pekerja laki-laki dan perempuan. Hak cuti haid dan hamil juga
masih menjadi tuntutan pekerja perempuan yang sampai hari ini belum mereka
dapatkan.
Hari
ini, jika kaum buruh menuntut penghapusan upah murah, sistem outsourcing,
budaya patriarki di dalam pabrik, kelas pekerja selalu dihadapkan dengan alat
kekerasan Negara dan para gelandangan yang memakai baju seragam preman sebagai
penghadang terdepan kaum buruh melawan kapitalis. Tak hanya kebebasan pendapat
dihadang oleh aparat kekerasan Negara, sebagian besar kaum buruh masih dihambat
dalam pembangunan organisasi, sebagai contoh salah satu buruh di Jombang yang
ingin membangun organisasi dihadang dengan tuduhan yang di manipulasi untuk
menghambat pembangunan organisasi di salah satu pabrik yang berada di Jombang
tersebut. Selain tidak adanya kebebasan membangun organisasi, buruh juga
dihadapkan dengan pelarangan aksi massa, ketika kaum buruh di Bekasi melakukan
aksi merespon May Day, sebagian dari mereka mendapat teguran keras dari
perusahaan yang berbentuk pemecatan ratusan buruh. (PT NIC yang memecat ratusan
buruh sari roti karena mengikuti aksi May Day)
Perjuangan
menuntut upah, penghapusan outrsourcing, budaya patriarki, dan pemberantasan
serikat tak dapat dimenangkan jika militerisme masih menghantui gerakan buruh
di Indonesia. Selama militerisme dihadapkan dengan gerakan buruh, maka
kemiskinan akan selalu menyelimuti kaum buruh, sebab tak mungkin kamar
kontrakan yang sesak akan berganti dengan kehidupan layak, jika perjuangan
menentang kapitalisme masih dihadapkan dengan senjata yang menjamur dihadapan
perlawanan kaum buruh.
Lawan Pimpinan Serikat
Buruh Yang Mendukung Partai Militerisme Dan Agen Kapitalisme!
Belakangan
ini sering terdengar kabar di media cetak maupun media elektronik tentang
pimpinan serikat yang berniat menceburkan tangannya di kubangan limbah milik
pelanggar HAM di negeri ini, sudah pasti limbahnya dipenuhi dengan darah para
aktivis pro-demokrasi.
Dalam
upaya pimpinan serikat tersebut memperlihatkan dukungannya terhadap
Prabowo Subianto dengan mengundang Prabowo dalam acara seminar nasional, maupun
internasional, yang di adakan oleh KSPI. Memanjatkan harapan baik di pundak
Prabowo jika ia terpilih menjadi presiden di negeri ini. Bagaimana
kesejahteraan buruh akan tercapai jika berteriak sama saja mati? Buruh perlu
demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraannya sendiri.
Sementara
Prabowo yang ingin didukung pimpinan serikat besar adalah kapitalis bersenjata,
pabrik PT Kertas Nusantara yang dimiliki oleh Prabowo Subianto di demo para
buruh yang tidak menerima gaji selama 5 bulan. Ratusan buruh PT Kertas
Nusantara mengultimatum pihak manajemen, jika tak dapat membayar gaji para
pekerja yang tertunda selama lima bulan, maka kaum pekerja PT Kertas Nusantara
akan menghentikan seluruh aktifitas perusahaan.
Dosa-dosa
prabowo masih tercatat dalam ingatan sejarah kita, pelaku dan otak penculikan
13 aktivis pro-demokrasi. Saat itu Prabowo menjadi pimpinan tertinggi KOPASSUS
yang di dalamnya terdapat kelompok kecil bernama Tim Mawar. Tim Mawar yang
berada di dalam Kopassus ini yang menjadi kaki tangan Prabowo untuk menculik
aktivis pro-demokrasi, campur tangannya dalam penculikan aktivis pro-demokrasi
menjadi penyebab utama pemecatan prabowo dari angkatan bersenjata Indonesia.
Tidak hanya penculikan aktivis! Masih banyak sederet kasus pelanggaran HAM yang
melibatkan sosok Prabowo. Seperti penyerangan etnis tionghoa yang terjadi di
penghujung runtuhnya kekuasaan Soeharto, yang di inisiasi oleh prabowo subianto
menunjukan wataknya yang rasis! Kami tak ingin dipimpin oleh pembatai berkuda,
Mussolini, Hitler, dan Juga Prabowo Subianto.
Apakah
layak Prabowo menjadi presiden yang didukung oleh pimpinan serikat buruh,
sementara jejak rekam perjalanan prabowo selalu menghambat gerakan rakyat maju?
Saat terjadinya mogok nasional, perlawanan kaum buruh dihambat oleh para preman
anak didik prabowo (GIBAS), aksi-aksi buruh dihantui oleh preman yang dengan
garang membawa pentungan dan mengejar para buruh yang ingin menuntut kenaikan
upah layak (Mogok Nasional 2).
Prabowo
juga tak akan mungkin dapat mensejahterahkan buruh, sementara Prabowo juga
pengusaha yang selama ini menindas para pekerjanya sendiri di PT Kertas
Nusantara. Maka kaum buruh yang berada di dalam serikat-serikat besar harus
melawan kebijakan para pimpinan serikat yang pro terhadap modal dan militerisme
demi kursi yang belum pasti diwujudkan.
Lawan Pemilu Borjuis 2014,
Lawan Militerisme Dan Bangun Partai Alternatif.
Tepat
pada tanggal 9 April 2014 seluruh rakyat Indonesia dipaksa untuk memilih
jejeran sampah yang menempel di kertas suara. Hasilnya: kemenangan pemilu tidak
diraih oleh salah satu partai peserta pemilu, kemenangan pemilu borjuis 2014
tetap menobatkan GOLPUT dari tahun ke tahun sebagai pemenangnya. Tentu
fenomena ini bukan terjadi begitu saja, dengan angka lebih dari 26%
(berdasarkan hitungan cepat) membuktikan bahwa partai peserta pemilu tidak
menjadi pilihan rakyat. Semua partai tak jauh berbeda, sama-sama merusak
lingkungan, memberi pendidikan mahal, kesehatan mahal, pro upah murah, dan
tunduk pada kaum pemodal. Bukan sebuah rahasia umum lagi ketika kita
membicarakan para peserta pemilu bahwa mereka dengan gagah, menjual secara
terang-terangan sumber daya alam kita kepada kaum pemodal, dengan mengeluarkan
regulasi yang tentunya disenangi oleh kaum pemodal, UU MIGAS, UU Tenaga Kerja,
UU PT, dan berbagai macam regulasi lainnya yang tidak pro terhadap
kesejahteraan rakyat.
Tidak
hanya para partai yang bobrok menjadi landasan kita menolak pemilu, namun
sistem pemilu itu sendiri yang selalu disebut wujud demokrasi hanyalah sebuah
omong kosong. Demokrasi yang sejati adalah demokrasi yang melibatkan seluruh
rakyat dalam pengambilan kebijakan Negara. Sementara di negeri ini, yang ada
hanyalah demokrasi prosuderal, memaksa rakyat memilih para sampah, namun tak
dapat mengambil kembali suaranya jika para sampah berkhianat dengan rakyat.
Sehingga rakyat tak punya kepentingan untuk mengikuti pemilu, sebab pemilu elit
2014 adalah ajang para babi berdasi merebut kekuasaan, agar dapat menjual
Sumber Daya Alam Indonesia, tanpa memikirkan jerit tangis rakyat di seantero
Bumi Nusantara. Selama rakyat masih kelaparan, tak sekolah, lingkungan rusak
parah, perempuan dimarjinalkan, maka rakyat harus tetap menolak pemilu elit
borjuis 2014 yang tidak dapat dijadikan jalan keluar bagi rakyat.!
Partai alternatif dapat menjadi anti tesa dari partai politik peserta pemilu borjuis 2014. Partai alternatif harus mengusung agenda rakyat, pendidikan gratis, kesehatan gratis, upah layak, kebebasan berserikat, reformasi agraria, dan usut tuntas kasus pelanggaran HAM.!
Kesimpulan
terakhir: Jika rakyat sudah bosan dengan para elit saat ini, maka sebaiknya
kebosanan dan kejenuhan rakyat harus disampaikan dalam momentum besar hari
buruh sedunia yang dapat dijadikan panggung peropaganda menolak pemilu elit
2014, melawan militerisme, dan membangun partai artenatif yang dapat menjadi
jalan keluar bagi rakyat. Hidup rakyat, terus bergelora dalam perlawanan.!
Melawan
militerisme sama saja dengan menolak pembodohan sejarah yang dilakukan Soeharto
saat ia berkuasa. (Malapetaka 30 September 1965). Melawan militerisme sama saja
dengan menentang penghilangan sederet nama pejuang demokrasi di tahun 1998.
Melawan militerisme berarti menghambat kaum pemodal berkuasa di Bumi Nusantara,
yang selalu menggunakan alat kekerasan Negara untuk menjaga kelancaran
modalnya.
Militerisme
adalah watak yang hari ini mengidap di berbagai partai peserta pemilu
elit 2014. Mereka menghalalkan segara cara kekerasan untuk mengamankan
kekuasaannya. Di saat Partai Demokrat dan kroninya berkuasa, peristiwa
pelanggaran HAM kerap terjadi di berbagai daerah, Bima berdarah, peristiwa
Lampung, menjadi contoh nyata partai yang berkuasa beserta kroninya melegalkan
pembataian untuk kepentingan modal dan mempertahankan kekuasaannya.
Namun
militerisme yang kental di dalam kubu tentara kali ini mulai bangkit
perlahan-lahan menapaki panggung politik di Indonesia, bahaya yang harus
dilawan oleh rakyat Indonesia! Sebab sejarah Militer di Indonesia sangat kental
dengan watak militerisme. Berikut sepenggal sejarah mengenai perkembangan watak
militerisme di Indonesia yang menyelimuti TNI:
Pada
awal terbentuknya TNI, posisi-posisi srategis banyak dikuasai oleh para
perwira-perwira hasil pendidikan penjajah Belanda (KNIL) dan fasis Jepang
(PETA) lebih diarahkan untuk menindas rakyat Indonesia itu sendiri. Sementara
itu laskar-laskar rakyat diberangus dan dilucuti senjata-senjatanya dengan
kebijakan RE-RA (restrukturiasi dan rasionalisasi) yang dijalankan oleh kabinet
Hatta (si tangan besi). Kebijakan RE-RA tersebut berasal dari kepentingan
kapitalis yang tertuang di dalam “Red Drive Proposal” atau “Usul-usul
Pembasmian Kaum Merah” yang dibuat di Sarangan pada tanggal 21 Juli 1948.
Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa Amerika Serikat bersedia
memberikan uang dan akan mendukung campur tangan PBB, berakibat pada pengusiran
Belanda dari tanah Indonesia. Hal tersebut dengan syarat: Indonesia harus
memutuskan hubungan dengan London dan unsur-unsur komunis dalam grup-grup
bersenjata kerakyatan harus dihapuskan. Kesepakatan Hatta dengan Amerika
mengakibatkan peristiwa Madiun. Ribuan rakyat mati dihantam kerasnya senjata
dari pasukan Siliwangi di bawah kepemimpinan Jenderal Abdul Haris Nasution.
Keruntuhan
Soekarno, membawa angin segar bagi Militer untuk menjalankan cita-citanya
berkuasa di panggung politik Indonesia, terlihat jelas ketika Soeharto berkuasa
menerapkan Dwi-Fungsi ABRI yang sudah lama dicanangkan oleh Jenderal Abdul
Haris Nasution, kepentingan tersebut ditutupi oleh Soeharto dengan mengumbar
konsepsi: Bahwa sipil masih lemah, dan tentara harus menjaga Bangsa dan Negara
dari ancaman yang berasal dari luar maupun dari rakyat sendiri.!
Militer
memiliki stuktur sejajar dengan struktur sipil, yang berbentuk struktur Komando
Teritorial (KOTER). Struktur dari Mabes TNI (nasional), Komando Daerah Militer
(Provinsi), Komando Resort Militer, Komando Distrik Militer (Kota/Kabupaten),
Komando Rayon Militer (Kecamatan), Bintara Pembina Desa.
Selain
menghabiskan anggaran yang luar biasa besar (sebagai contoh pembangunan Kodam
baru bisa menghabiskan dana hingga 100 triliun), Komando Teritorial ini juga
sekedar menjadi alat untuk mengawasi rakyat, mengontrol aspirasi politik rakyat
(terutama saat pemilihan umum) atau menjadi sumber pelanggaran hak asasi
manusia. (menurut laporan KOMNAS HAM, yang melibatkan baik personil, staf, maupun
institusi komando territorial) Selogan Bijak berkata: “ Money For Education Not
War!”
Kekuatan
lama (Sisa-sisa ORBA) mulai kembali bangkit dengan berbagai macem lambang
partai, menciptakan sejumlah regulasi anti rakyat yang (UU PKS, UU ORMAS, UU
KAMNAS) menjadi legalitas jika melakukan kekerasan demi keamanan modal dan
stabilitas politik. Selama watak militerisme menguasai kekuasaan, dapat menjadi
hambatan besar bagi gerakan buruh menuntut kesejahteraan dan kebebasan
berserikat. Negara tak akan membiarkan gerakan buruh terus membesar, gagahnya
senjata akan terus menghadang setiap perlawanan buruh. Itu lah sebabnya kenapa
militerisme harus dilawan dalam pemilu elit borjuis 2014 ini. Tak ada
kesejahteraan, tak ada demokrasi, jika militerisme berkuasa kembali.
Jika
hasil GOLPUT melebihi suara partai, berarti rakyat sedang gelisah dengan situasi
negeri ini, para partai tak bisa menjadi tempat rakyat memanjatkan harapan,
situasi ini menjadi landasan untuk rakyat membangun alat politiknya sendiri.
Kaum buruh yang hari ini memiliki gerakan terbesar dari sektor gerakan
rakyat lainnya dapat menjadi pelopor pembangunan partai untuk rakyat. Sudah
saatnya kaum buruh menuju politik, sebab beberapa kali kemenangan kaum buruh
dilapangan, saat melakukan mogok nasional tak dapat dinikmati karena keputusan
para elit yang berkuasa tak berpihak pada buruh, sehingga kaum buruh mempunyai
kepentingan untuk menempatkan perwakilannya di lingkaran kekuasaan, agar
perjuangan menutut upah dan kebebasan berserikat lebih mudah diraih oleh kaum
buruh.
Menuju
politik, bukan berarti menebar para kader serikat untuk masuk ke semua partai
yang tak dapat dipercaya, menuju politik bukan berarti pimpinan serikat
mendukung pelanggar HAM ingin berkuasa. Menuju politik bukan berarti harus
tunduk di bawah pengaruh partai-partai penipu rakyat.
Partai
alternatif untuk rakyat dapat dijadikan media pendidikan bagi rakyat, selama 32
tahun rakyat dibungkam mengenal ideologi dan politik, sehingga harus ada alat
yang menghimpun seluruh rakyat untuk mengenal pengetahuan tentang politik dan
ideologi, tanpa pendidikan untuk rakyat partai alternatif hanya menjadi mimpi.
Partai
alternatif juga dapat dijadikan ruang perdebatan dari segala macam perspektif
yang pro-demokrasi, sekaligus menjadi pendidikan bagi rakyat. Syaratnya: adanya
kebebasan propaganda di dalam partai alternatif.
Penulis: Ziwenk, (Kader PEMBEBASAN Yogyakarta).
Daftar Refrensi:
- http://mampus.wordpress.com/2014/03/23/melacak-jejak-stan-greenberg-james-riady-dibalik-jokowi/
- http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/04/13/said-iqbal-jokowi-tak-pedulikan-upah-buruh
- http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/04/16/panglima-tni-saya-harapkan-transisi-demokrasi
- http://www.arahjuang.com/2014/03/27/tolak-rencana-said-iqbal-mendukung-prabowo-subiantohttp://www.tribunnews.com/nasional/2014/03/25/dianggap-pro-upah-murah-jokowi-kurang-populer-
- http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/475974-5-bulan-tak-dibayar--karyawan-prabowo-subianto-m
- http://politik.news.viva.co.id/news/read/496020-pekan-depan--pdip-umumkan-calon-wakil-presiden
- http://forum.detik.com/apa-kabar-nasib-ratusan-karyawan-prabowo-yang-tak-digaji-9-t888669.html
- http://gema-nurani.com/2014/01/gaji-belum-dibayar-prabowo-didemo-rhttp://news.detik.com/read/2013/05/06/190610/2239506/10/?nd772204topnewsatusan-karyawannya/
- http://www.fes.or.id/fes/download/Ringkasan%20Eksekutif.pdf

Tidak ada komentar:
Posting Komentar